Popular Posts

Monday, 29 July 2013

Tentang Tanah Suci

Segala puji bagi Allah Yang Maha Memberi lagi Maha Kaya, tiada Tuhan selain Dia. Dia yang menjadikan Makkah sebagai Baitul Haram, sebuah tempat yang paling mulia.Makkah Al-Mukkarramah adalah sebuah negeri yang dipilih Allah sebagai tempat bagi Bait-Nya. Oleh karena itu, Dia menyucikan dan menjadikannya sebagai tanah suci yang damai, melipatgandakan amal kebajikan yang dikerjakan di sana, serta menjadikannya sebagai masjid dan kiblat dunia. Rasulullah SAW bersabda " Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik darpada seribu kali shalat di masjid-masjid yang lain,kecuali Masjidil Haram.Sedangkan satu kali shalat di Masjidil Haram itu lebih utama dari pada seratus ribu kali shalat di tempat lain.
Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengejakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa menginkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Alu 'Imran: 96,97)


HAJAR ASWAD
Hajar aswad adalah batu berwarna hitam yang berada di sudut tenggara Ka'bah dilingkari besi putih yang direkat dengan timah,terletak kira-kira setinggi satu setengah meter dari permukaan lantai masjid. Pada saat melakukan tawaf kita dianjurkan menyentuhnya,karena mempunyai beberapa keutamaan yang agung. Hajar Aswad termasuk di antara tanda-tanda kebesaran Allah SWT di muka bumi. Menurut sejarahnya batu ini ketika diturunkan dari surga berwarna putih mengkilap kemudian karena kedurhakaan anak-anak Adam,batu ini makin hitam dan makin hitam. Dan sejarah batu ini sangat panjang sepanjang sejarah Ka'bah. Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum hijrah(606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka'bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena ada empat kabilah dalam suku Quraisy sudah saling bersitegang mempertahankan pendapat masing-masing dalam

perselisihan tentang siapa yang berhak mengangkat dan meletakkan batu ini pada tempatnya setelah pemuguran selesai.Selama lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat akhirnya muncul usu dari Abu Umayyah bin Mughirah yang mengatakan " Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini ". Dan ternyata orang yang pertama kali masuk pada hari itu adalah Muhammad Bin Abdullah (35 tahun) yaitu Nabi Muhammad sebelum menjadi Nabi Yang pada saat itu sudah bergelar al-amin (Orang yang terpercaya) karena beliau tidak pernah berbohong dan tidak pernah ingkar janji,hal ini sudah menjadi rahasia umum dan seluruh penduduyk Makkah mengakui hal itu. Maka mereka langsung minta kepada beliau untuk mengambil keputusan tentang pertikaian yang berbahaya itu. Kemudian Muhammad Bin Abdullah menuju tempat penyimpanan batu itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu ditengah-tengah sorban,lantas menyuruh seorang wakil masing-masing kabilah yang sedang bertengkar. Maka empat orang itulah yang mengangkat batu itu secara bersama-sama lalu Muhammad yang memasang pada sudut Ka'bah maka terhindarlah adu senjata. Kisah inilah yang mengilhami sebagian orang bahwa peletakan batu tertentu (misalnya batu pertama) pada suatu bangunan memiliki nilai yang sangat penting dan berharga karena menyangkut perjalanan sejarah kehidupan. Selain batu yang terdapat pada Ka'bah Al-Musyarrafah ini tidak ada batu lain yang boleh dicium dan dibacakan takbir atasnya oleh manusia.Sudut hitam Hajar Aswad merupakan yamin Allah SWT di bumi. Dengannya Dia menyalami hamba-Nya sebagaimana seseorang bersalaman dengan saudaranya,Rasulullah SAW. mengatakansesungguhnya pada hajar aswad itu terdapat tujuh puluh malaikat,tengah memohonkan ampun ( kepada Allah ) untuk orang-orang muslim dan mukmin dengan tangan-tangan mereka, seraya rukuk, sujud dan bertawaf.


AIR ZAM-ZAM
Tempatnya 20 meter ke kiri dari Masjidil Haram ada semacam terowongan dengan trap trap ke bawah, di dalam sumber air Zam Zam itu berada yang sekarang sudah ditutup dan dipagari dengan kaca tebal yang didalamnya sudah dipasangi instalasi pipa modern untuk mengalirkan air Zam Zam itu ke tempat tempat yang sudah ditentukan. Dahulu pada masa jahiliah air zamzam dijuluki syabba'ah (yang banyak mengeyangkan),dan diyakini bahwa ia adalah sebaik-baik penolong bagi keluarga. Air zam-zam memiliki nilai yang sangat tinggi bagi ummat Islam karena ini adalah air Barokah,air yang diberikan oleh tuhan Yang Maha Pemurah sehingga dapat diminum untuk apa saja. Seperti yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW dan Nabi tidak menyatakan sesuatu kecuali wahyu dari Allah "Air zam-zam dapat diminum untuk apa saja ". Air zam-zam rasanya agak lain dari air biasa namun demikian yang penting riwayat dari
sumur itu sendiri. Waktu Nabi Ismail as. dan ibunya (Siti Hajar) ditinggalkan oleh Nabi ibrahim di lembah itu setelah kehabisan persediaan air untuk minum maka ibunya pergi ke bukit Shafa mencari-cari mata air tetapi yang dicari tidak ada,maka pergilah ia ke bukit Marwah tetapi juga tidak mendapat mata air. Berlari-lari antara Shafa dan Marwah sampai tujuh kali namun tidak berhasil juga. Tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak ada wujudnya. Siti Hajar berkata : Saya mendengar suaramu,tolonglah aku jika engkau punya kebaikan. Malaikat Jibril menampakkan diri dan memukul tanah yang akhirnya memancarlah sumber air. Siti hajar membendung seraya berkata-kata zamzam-zamzam,karena kuatir kalau air itu mengalir ke mana-mana. Di tempat mata air inilah akhirnya disebut sumur zam-zam. Nabi Muhammad SAW bersabda "Andaikata Siti Hajar membiarkan ir itu mengalir niscaya sumur itu menjadi mata air yang mengalir. Dengan air zam-zam itulah Siti Hajar dan puteranya Nabi Ismail as. dapat menyambung hidupnya. Keistimewaan sumur zam-zam ini antara lain meskipun airnya setiap hari diambil beribu-ribu liter,namun tidak pernah berkurang. Jamah haji yang baru pulang menunaikan ibadah haji umumnya membawa oleh-oleh dan tidak ketinggalan membawa korma dan air Zam-zam.


MAQOM IBRAHIM
Maqam Ibrahi, itu sebuah batu yang ditutup dengan kaca dan dibuat runcing tirus di bagian atapnya. Batu terdapat bekas telapak kaki (atsar) Ibrahim a.s. Dahulu batu itu dalam keadaan seperti sekarang ini, hanya saja Allah SWT hendak menjadikan maqam itu sebagai salah satu tanda diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ketika Allah SWT menyuruh Ibrahim a.s. untuk menyeru kepada manusia agar mereka mengerjakan haji, maka dia(Ibrahim) berdiri dia tas maqam itu. Lalu maqam itu menjadi tinggi sehingga melebihi gunung-gunung dan tampak menonjol diantara apa-apa yang ada dibawahnya. Kemudian Ibrahim berkata,"Wahai umat manusia,penuhilah panggilan Tuhanmu." Kemudian manusia pun memenuhi panggilan Tuhannya,seraya berseru,Labbaik Allahumma Labbaik (Ya Allah, kami datang memenuhi panggilanmMu,ya Allah). Diatas maqam itu terdapat bekas dua telapak kaki Nabi Ibrahim sesuai dengan kehendak Allah SWT. Ibrahim memandang ke kanan dan ke kiri seraya berkata,
" Penuhilah panggilan Tuhanmu." Ketika selesai melakukan itu,dia meletakkan maqam itu sebagai kiblat. Selanjutnya,dia melakukan salat menghadap ke arahnya (menghadap pintu Ka'bah). Dengan demikian,jadilah ia kiblat hingga masa yang dikehendaki Allah. Berikutnya,Ismail mengerjakan salat menghadap ke arahnya (menghadap pintu Ka'bah). Diantara maqam Ibrahim a.s dan hajar aswad hingga zamzam, terdapat kuburan sembilan puluh sembilan orang nabi, mereka datang untuk menunaikan ibadah haji, kemudian mereka dikuburkan disana. Batu itu adalah pengganjal kaki Nabi Ibrahim as. sewaktu membangun Ka'bah. Jadi Maqam Ibrahim itu bukan kuburan Nabi Ibrahim. Maqam Ibrahim adalah satu diantara tempat mustajab.





MASJID NABAWI
Sejarah berdirinya Masjid Nabawi yaitu ketika Rasulullah SAW. Masuk Madinah, kaum Ansar mengelu-elukan beliau serta menawarkan rumah untuk beristirahat. Namun Rasulullah SAW menjawab dengan bijaksana : "Biarkanlah unta ini jalan,karena ia diperintahkan Allah. Setelah sampai di tanah milik kedua anak yatim bernama Sahal dan Suhail keduanya anak Amr bin Amarah dibawah asuhan Mu'adz bin Atrah,unta tersebut berhenti,kemudian beliau dipersilahkan oleh Abu Ayub Al Ansari,tinggal di rumahnya. Setelah beberapa bulan di rumah Au Ayub Al Ansari,Nabi mendirikan masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As'ad bin Zurrah, sebagian milik kedua anak yatim (Sahal dan Suhai), dan sebagian lagi tanah kuburan Musyrikin yang telah rusak.Tanah kepunyaan kedua anak yatim tadi dibeli dengan harga sepuluh dinar yang dibayar oleh Abu Bakar Ra sedang tanah kuburan serta milik As'ad Bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf. Waktu membangun masjid Nabi meletakkan batu pertama,selanjutnya kedua,ketiga,keempat dan kelima masing-masing oleh sahabat Abu Bakar,Umar,Usman dan Ali. Kemudian dikerjakan dengan gotong royong sampai selesai. Pagarnya dari batu tanah (setinggi kurang lebih 2 meter) tiang-tiangnya dari batang kurma,atap dari pelepah pohon kurma,halaman ditutup denga batubatu kecil,kiblat menghadap ke Baitul Maqdis,karena waktu itu perintah Allah SWT.



untuk menghadap Ka'bah belum turun. Pintunya tiga buah,yaitu pintu kanan,pintu kiri dan pintu belakang.Panjang masjid 70 hasta,lebar 60 hasta. Dengan demikian masjid itu sederhana sekali tanpa hiasan,tanpa tikar dan untuk penerangan waktu malam hari digunakan pelepah kurma kering yang dibakar. Masjid tersebut dibuat tahun ke-1 Hijriah. Di sisi masjid dibangun tempat kediaman Nabi dan Keluarganya yang kemudian mejadi tempat pemakamannya.Jumlah pintu yang dibuat sampai dengan masa Raja Abd. Aziz ialah Bab Su'ud,Abdul Aziz,Abdul Majid,Abu Bakar Assiddiq,Umar bin Khattab,Usman bin 'Affan,Babus Salam,Babur Rahman,Babun Nisa,Bab Jibril. Setiap pintu tingginya 6 m dan lebar 3,2 m dibuat dari kayu dihiasi ukiran dari tembaga kuning model Arab. Jumlah tiang sebanyak 232 buah,masing-masing tingginya 5 m. Didirikan 2 buah menara terletak di muka masjid tingginya masing-masing 70 m. Setelah perluasan di masa Raja Fahd jumlah pintu,tiang dan menara bertambah banyak dan seluruh ruangan ber-AC (full AC). Data perkembangan masjid Nabawi mulai dari zaman rasulullah SAW. sebagai berikut: Luas masjid waktu dibangun oleh Rasulullah 2.475 M2,tambahan Khalifah Usmar bin Khattaab 1.100 M2,tambahan Khalifah Usman bin Affan 496 M2, tambahan Khalifah Walid bin Abdul Malik 2.369 M2,tambahan Khalifah Abbas Al Mahdi 2.450 M2,tambahan Malik Al Qait Bey 120 M2,tambahan Khalifah Sultan Abdul Majid Al Usmani 1.293 M2,tambahan Mali Faisal 600 M2. Pada saat Malik Fahd sedang melaksanakan perluasan Masjid Nabawi tersebut seluas 82.000 M2.



MASJID QUBA
Masjid Quba adalah sebuah masjid yang terletak di daerah Quba. Quba itu sendiri adalah desa yang terletak kurang lebih 5 Km sebelah barat daya Madinah. Masjid ini dibangun Rasullah pada waktu pertama kali beliau menginjakkan kakinya di Madinah. Waktu Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah,orang-orang pertama yang menyosong kedatangan Rasulullah SAW adalah penduduk Quba. Karena orang-orang Quba dan Madinah belum mengenal Nabi maka tatkala Nabi bersama pengiring tunggalnya yaitu Abu bakar Assidiq datang dengan berpakaian yang sama-sama putih,mereka ragu-ragu mana yang Nabi. Hal itu menarik perhatian Abu Bakar. Untuk menghilangkan keragu-raguan mereka maka Abu Bakar memegang selendangnya dan dilindungkan di atas kepala Nabi. Dengan demikian Maka para penjemput mengerti yang mana Nabi. Kedatangan Nabi di Quba pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awal tahun 13 kenabiannya atau tahun 53 dari kelahiran beliau atau bertepatan dengan tanggal 20 September 622 M. Dan pada waktu di Quba beliau menempati rumah Kalsum bin Hadam dari kabilah Amir bin Auf. Di Quba inilah beliau mendirikan Masjid di atas sebidang tanah milik Kalsum bin Hadam.

Batu pertama diletakkan oleh Nabi sendiri,kemudian berturut-turut diletakkan oleh Abu Bakar,Umar,Usman dan selanjutnya dikerjakan oleh para sahabat Muhajirin dan Ansar sampai selesai. Masjid Quba adalah masjid yang pertama didirikan oleh Nabi Muhammad SAW dan masjid ini pula disebut kan dalam Al-Qur'an dengan nama masjid Taqwa. Masjid ini dibangun Rasulullah SAW 2 kali,pertama ketika kiblatnya menghadap Baitul Maqdis dan kedua ketika kiblatnya menghadap Baitullah. Dalam membangun masjid ini beliau dibantu Malaikat Jibril yang memberi petunjuk arah kiblat masjid tersebut. Di masjid ini pula pertama kali diadakan shalat berjamaah secara terang-terangan. Letak masjid Quba saat ini berada di sudut perempatan jalan tidak jauh dari jalan baru yang menghubungkan Madinah-Makkah-Jeddah. Masjid ini berkali-kali diadakan perubahan dan perluasan antara lain oleh Khalifah Utsman bin Affan ra. kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menambah menara. Tahun 435 H diperbaiki lagi oleh Abu Ya'la al Hussaini. Tahun 1245 H oleh Sultan Muhammad ke II dan bangunannya diperbaharui sebagaimana sekarang ini. Di muka masjid dahulu ada sebuah sumur bernama Aris, airnya tawar. Karena di sumur ini cincin Rasulullah SAW. jatuh maka sumur tersebut disebut juga sumur Khatam(cincin).


MASJID QIBLATAIN
Disebelah Barat Laut Masjid Nabawi kurang 4 Km ada sebuah masjid yang bermenara dua berwarna putih bersih sangat cantik dan anggun. Masjid tersebut mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq. Pada permulaan Islam,orang melakukan salat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis di Yerussalem/Palestina. Pada tahun ke 2 Hijriyah hari senin bulan Rajab waktu Rasulullah sedang melaksanakan salat zuhur di masjid Bani Salamah ini, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144.

Dalam salat dhuhur tersebut mula-mula Rasulullah SAW menghadap ke arah Masjidil Aqsa tetapi setelah turun ayat tersebut di atas,beliau menghentikan sementara,kemudian meneruskan salat ke Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya. Masjid ini diberi nama masjid Qiblatain yang berarti Masjid berkiblat dua.



KHANDAK / MASJID KHAMSAH
Khandak yaitu daerah gunung Sila'.Di daerah ini terdapat lima buah (Masjid Khamsah),diantaranya Masjid Abubakar Ashshiddiq,Masjid Umar bi Khaththaab,Masjid ali bin Abi Thalib,Masjid Salman Alfarisi dan Masjid Alfath. Khandak dari segi bahasa berarti parit, dalam sejarah islam yang dimaksud Khandak adalah peristiwa penggalian parit pertahanan sehubungan dengan peristiea pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy bersama dengan sekutu -sekutunya dari Yahudi Bani Nadlir,Bani Ghathfan dan lain-lainnya.

Di saat Rasulullah SAW mendengar kafir Quraisy bersama sekutu-sukutunya akan menggempur kota Madinah,maka Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat-sahabatnya,bagaimana cara menanggulangi penyerangan tersebut. Pada waktu sahabat Nabi,Salman Al Farisi memberikan saran supaya Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit,usul tersebut diterima oleh Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit,usul tersebut diterima oleh Rasulullah SAW. Maka digalilah parit pertahanan tersebut di bawah pimpinan Rasulullah SAW sendiri. Peristiwa pengepungan kota Madinah ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima Hijriah. Peninggalan perang Khandak yang ada sampai sekarang hanyalah berupa lima buah pos yang dulunya berjumlah tujuh, yang menurut sebagian riwayat tempat tersebut adalah bekas pos penjagaan pada peristiwa perang Khandak dan sekarang dikenal dengan nama Masjid Sab'ah atau Masjid Khamsah.








JABAL UHUD
Jabal uhud adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah.Letaknya kurang lebih 5 km dari pusat kota Madinah,berada di pinggir jalan lama Madinah-Makkah. Jabal Uhud adalah sekelompok gunung yang ada di kota Madinah dan tidak bersambungan dengan gunung-gunung yang lain dimana pada umumnya gunung-gunung di Madinah ini adalah sambung menyambung,karena itulah disebut Jabal Uhud yang artinya gunung menyendiri. Gunung ini disebut Nabi sebagai salah satu gunung yang ada di surga,sehingga alau kita melihatnya sekarang Insya Allah kita akan melihatnya lagi di surga nanti.

Mulai tahun 1984 perjalanan jamaah haji dari Makkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak melalui jalan lama tersebut,melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir Jabal Uhud. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dasyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur sampai 70 orang syuhada,antara lain Hamzah bin Abdul Munthalib paman Nabi Muhammad SAW. Perang uhud terjadi pada tahun ke 3H,waktu kaum musyrikin Makkah sampai di perbatasan Madinah,umat Islam mengadakan musyawarah bersama para sahabat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak para sahabat mengusulkan agar umat Islam menyosong kedatanganmusuh di luar kota Madinah,usul ini akhirnya disetujui oleh Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang pemanah ditempatkan di atas gunung Uhud,untuk mengadakan serangan-serangan bilamana kaum musyrikin mulai menggempur kedudukan umat Islam. Dalam perang yang dasyat tersebut umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang,pemanah umat Islam yang berada di atas gunung Uhud,setelah melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh ada beberapa di antara mereka yang menginggalkan pos untuk turut mengambil barang-barang tersebut padahal Nabi Muhammad SAW telah menginstruksikan agar tidak meninggalkan pos meski apapun yang terjadi. Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) seorang ahli strategi yang memimpin tentara berkuda,menggerakkan tentaranya kembali guna menyerang sehingga umat Islam mengalami kekalahan yang tidak sedikit yaitu sampai 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Dalam perang ini Hindun binti Utbah mengupah Wahsyi Alhabsyi,budak jubair untuk membunuh Hamzah karena ayah Hindun dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar. Begitu pula Jubair bin Mut'im berjanji kepada Wahsyi akan memerdekakannya setelah ia dapat membunuh paman Jubair dalam peperangan badar pula. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai Nabi Muhammad SAW gugur karena badannya penuh anak panah. setelah perang usai dan kaum musyrikin mengndurkan diri kembali ke Makkah,maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh,sehingga ada satu liang kubur beberapa syuhada. Kuburan uhud waktu sekarang dikelilingi tembok.









Makam Nabi Muhammad SAW terletak di sudut timur Masjid Nabawi dahulu dinamakan Maqshurah.Setelah masjid itu siperluas,makam itu termasuk di dalam bangunan masjid. Makam Rasulullah SAW itu sendiri dibatasi oleh pagar yang penuh dengan lukisan kaligrafi dan pintunya dilapisi emas. Namun begitu asykar(tentara) di sana masih juga menjaga ketat dengan pagar betis di sekeliling Makam Rasulullah sehingga jamaah hanya bisa berdoa dari jarak lima meter. Pada bangunan ini terdapat empat buah pintu :
1. Pintu sebelah kiblat dinamakan pintu At Taubah.
2. Pintu sebelah timur dinamakan pintu Fatimah.
3. Pintu sebelah utara dinamakan pintu Tahajjud.
4. Pintu sebelah barat ke Raudah (sudah ditutup).
Dalam ruangan ini terdapat 3 buah makam yaitu makam Rasulullah SAW,Abu Bakar As Siddiq dan Umar ibnul Khattab.



PINTU KA'BAH
Pintu ka'bah ini terbuat dari emas murni,dimana sejak berabad yang lalu pintu ka'bah memang masih berbentuk lama. Pada tahu 1363 H atau tahun 1943 M oleh Raja Abdul Azis pintu Ka'bah itu mendapat perbaikan,namun tetap tanpa pakai emas. Kemudian pada tahun 1977 M yaitu pada zaman Raja Khalid bin Abdul Azis mulai timbul pemikiran diadakannya pembauran. Pemikiran itu timbul pada bulan Jumadil Akhir tahun 1397 H ketika Raja Khalid bin Abdul azis berkunjung dan shalat dalam Ka'bah. setelah itu Raja Khalid memerintahkan untuk memperbaharui pintu Ka'bah tersebut. Pembikinan pintu Ka'bah dari emas itu kemudian diserahkan pada keluarga Badr yang sudah berpengalaman 80 tahun dan terkenal Rp.5.368.000.000,00. Biaya ini belum termasuk harga emas yang telah diasuransikan melalui percetakan uang negara dan emas yang dipakai seberat 280 kg emas murni. Dalam mengerjakan pekerjaan ini Achmad Ibrahim dibantu oleh seorang insitur bangunan terkenal yang bernama Munir Al Jundi serta seorang seorang penulis khath Arab terkenal dan ahli ukir ukiran bernama Abdurrahman Amien.


kemahirannya dalam kerajinan emas yang antik-antik. Biaya pembikinan dua daun pintu Ka'bah tersebut disetujui sebesar 13.420.000 real atau Sebelum mengerjakan pekerjaan pokok, diadakan study perbandingan dulu,untuk study ini saja memakan biaya sebesar 300.00 real atau Rp.120 juta. Pada awal bulan Dzulhijjah tahu 1398 atau tahun 1978 M pekerjaan besar itu mulai dikerjakan. Pekerjaan membuat pintu Ka'bah dari bahan emas murni itu dikerjakan dalam masa 12 bulan yakni sesuai dengan kontrak yang disetujui dengan raja. Kemudian bagaimana cara Ahmad Ibrahim membikinnya serta dengan menggunakan teori yang bagaimana. Pertama mengadakan keseimbangan antara pintu Ka'bah yang akan dibikin itu dengan tutup pintu (kelambu),terutama khath khath ayat suci Al Quran yang akan dimasukkan. Letak letak tulisan itu serta jarak antara satu dengan lainnya,termasuk jumlah pemakaian emas agar semua mencapai keseimbangan. Sebelum menginjak pada bahan emas maka diadakan percobaan dulu dengan menggunakan bahan dari perak,dengan emas terlalu lunak. Percobaan ini dilakukan sampai beberapa kali termasuk memperhatikan ayat-ayat Al Quran yang akan dimasukkan. Begitu juga besar kecilnya kunci pintu Ka'bah yang dirancang sedemikian rupa. Diantara dua pintu itu ada yang artunya demikian,bahwa pintu yang lama adalah pembaharuan yang dilakukan oleh Raja Abdul Azis pada tahun 1363H. (Raja Abdul Azis adalah pendiri kerajaan Arab Saudi). Sedangkan di bawahnya ada tulisan lagi yang artinya sedangkan pintu ini (pintu Ka'bah dari emas) diperbaharui pada zaman raja Khalid bin Abdul azis tahun 1399 H atau 1979 M. Setelah beberap bulan pintu Ka'bah dari emas itu dipasang yang dihadiri juga oleh Raja Khalid maka pada musim haji tahun 1979 itu terjadi pemberontakan dan tembak menembak di Masjidil Haram yang terkenal itu. Namun pemberontakan itu tidak ada kaitannya dengan pemasangan pintu Ka'bah yang baru dipasang tapi karena sebab lain. Pintu Ka'bah emas murni itu mempunyai tinggi 3 meter dan lebar 2 meter serta tebal setengah meter. Di dalam pintu itu ada kayu "Makamong" sepanjang 40,8 cm tiap satu daun pintu,sebagai penahan emas.Sedangkan pintu emas itu sendiri disusun secara Kock down dengan berat masing-masing potongan 50 kg.


MASJIDIL HARAM
Masjidil Haram adalah masjid yang paling tertua di muka bumi ini. Sejarahnya adalah sejajar dengan sejarah Ka'bah,Masjid ini mempunyai bentuk yang lain karena hanya merupakan lapangan di sekitar Ka'bah. Sejak zaman Nabi Ibrahim as. sampai zaman Nabi Muhammad SAW. belum mempunyai batas dinding tertentu,hanya rumah-rumah yang ada disekitarnya saja yang merupakan batas Masjidil Haram. Tempat Thawaf belum begitu luas karena pengunjungnya hanya terdiri dari orang Arab,demikian pula pada massa Nabi Muhammad SAW. dan sahabat Abu Abkar r.a. Pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab r.a tahun 17 H beliau mengadakan beberapa perubahan karena banjir besar di sekitar Makkah sehingga menimbulkan kerusakan Masjidil Haram, maka beliau mengambil langkah-langkah:

1. Membeli beberapa rumah yang ada di sekitar masjid.
2. Membangun tembok untuk menjadi batas masjid.
3. Membikin beberapa pintu.
4. Menyediakan lampu-lampu di Masjid untuk penerangan di waktu malam hari.
Setelah selesai pembangunan Masjid maka Khalifa Umar membangun bendungan besar untuk mencegah banjir dan mengalihkan saluran dari Mudda'a ke Wadi Ibrahim. Pada tahun 26 H perluasan masjid yang dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab di pandang belum mencukupi maka oleh Khalifah Utsman bin Affan diadakan perluasan dan ditambah pulah beberapa tempat yang beratap. Pada zaman jayanya Walid bin Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tahu 88-96 H. terkenal keamanan dan kemakmurannya dan tidak pernah meninggalkan perhatiannya terhadap penyempurnaan Masjidil Haram sehingga membawa perbaikan yang lebih sempurna. Pada bangunan Masjidil Haram terdapat pilar-pilar yang berukiran indah dan tidak mengalami perubahan sampai zaman khalifah Abu Ja'far tahun 139 H. Pada hari sabtu 29 syawal 802 H. terjadi kebakaran di Masjidil Haram banyak tiang-tiang dan ukiran yang amat berharga habis terbakar. Kerusakan itu diperbaiki oleh Sulthan Farouk bin Barquk dari Mesir walaupun sederhana sekali dan sering terjadi kerusakan. Perbaikan itu dimulai tahun 979 H. yang atapnya mula-mula dari kayu jati dengan kubah-kubah batu. Pada 1072 H diadakan lagi perbaikan oleh Wali jeddah,Sulaeman Bey dan pengurus Masjidil haram. Perbaikan itu tidak hanya meliputi bagian dalam Masjidil Haram saja tetapi di luarpun banyak rumah yang diwakafkan untuk kediaman bagi Amirul Haj yang datang tiap tahun dari Mesir. Pada tanggal 19 Rabiutstsani tahu 1374 H/1955 M,dimulai pembangunan Masjidil Haram Makkah. Pembangunan itu tidak hanya merupakan penyempurnaan yang telah ada tetapi merupakan tambahan bangunan baru. Bangunan masjid baru itu dibuat seluruhnya dari beton,dinding luarnya dari batu marmar dan menaranya sebanyak tujuh buah menjulang tinggi. Bangunan tersebut bertingkat tiga dan di bawah tanah terdapat ruangan yang luas hampir seluas masjid itu,juga dipergunakan untuk shalat. Selain dari ruangan terdapat pula terowongan untuk menyalurkan banjir dari sebelah timur menembus ke sebelah barat masjid. Masjidi Haram dikelilingi oleh jalan-jalan raya dan lapangan serta gedung bertingkat untuk tempat parkir kendaraan. Luas Masjidil Haram pada waktu sekarang 160.168 meter persegi dan dapat menampung 500.000 orang Mas'a (tempat sa'i) 10 .172 meter persegi Babahim.


KA'BAH MASJIDIL HARAM
Allah berfirman pula, Allah telah menjadikan Ka'bah,rumah suci itu sebagai pusat (peribadahan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan haram,hayda,qalaid (Allah mejadikan yang) demikian itu agar kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Maidah:97).Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim as. Bersama putranya Nabi Ismail as. Dibantu oleh para Malaikat. Ka'bah dinamakan demikian karena bangunannya yang persegi empat itu. Dalam bahasa Arab setiap rumah persegi empat dinamakan ka'bah. Setiap waktu di sekeliling Ka'bah itu melakukan thawaf. Bangunan Ka'bah ini pada zaman Nabi Ibrahim as. berukuran tinggi 9 hasta,lebar bagian selatan 20 hasta,bagian utara 22 hasta,panjang sebelah timur 32 hasta dan panjang di sebelah barat 31 hasta. Waktu itu Ka'bah belum beratap dan juga belum sempurna pintunya. Ka'bah sebagaimana bangunan lain di Makkah selalu mengalami kerusakan,tentu memerlukan perbaikan-perbaikan. Perbaikan pada zaman Nabi Ibrahim as. dilakukan oleh Kabilah Amaliqah dan kabilah Jurhum. Sejak nenek Nabi Muhammad SAW. yang keempat Qusay Bin Kila, telah memberi atap Ka'bah tersebut dengan kayu dum dan daun-daun kurma. Tahun 571 m. lahir Nabi Muhammad SAW. Raja Najasi bernama Abrahah dari Habsyah menyerbu ke Makkah berusaha untuk meruntuhkan
Ka'bah namun tuhan mengirim burung-burung ababil untuk menghancurkan pasukan Abrahah tersebut karena Tuhan tidak mengizinkan untuk menghancurkannya. Ka'bah adalah suatu bangunan yang bisa saja pada suatu saat mengalami kerusakan. Kewajiban bagi ummat Islam terutama penguasa Makkah bertanggung jawab penuh dalam perbaikan Ka'bah tersebut.Perbaikan Ka'bah itu berturut-turut telah dilaksanakan sebagi berikut :Tahun35 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW terjadi banjir sehingga batu dinding Ka'bah mengalami keretakan dan juga bagian-bagian dari Hajar Aswad. Perbaikan dikerjakan oleh Kabilah-kabulah sekitar Makkah. Tetapi setelah akan meletakkan Hajr aswad ke tempat semula timbullah perselisihan siapa yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad tersebut. Yang menjadi sesepuh Kabilah di sekitar Makkah waktu itu abu Umayyah bin Al Mughirah Al Mahzumi berkata "barang siapa yang mula-mula masuk masjid dari jurusan pintu Shafa besok pagi maka dailah yang harus kita terima menjadi hakim". Ternyata yang pertama masuk ke dalam masjid adalah Nabi Muhammad SAW. sehingga beliau telah disepakati menjadi hakim.



Nabi Muhammad SAW. melaksanakan tugas itu dengan menghamparkan surbannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah, kemudian setiap kepala kabilah dipersilahkan memegang ujung serban itu dan mengangkat Hajar aswad beramai-ramai ke tempat semula. Selanjutnya Nabi Muhammad sendiri yang meletakkan Hajar Aswad di penjuru Ka'bah seperti yang kit lihat sekarang. Perselisihan yang nyaris menjadi pertumpahan darah telah dihindarkan berkat kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW. Ka'bah yang dibangun pada saat itu tingginya 18 hasta,pintunya ditinggikan dari tanah seperti terlihat sekarang serta di dalamnya dibuat tiang 6 tiang dan diberi atap dengan baik. Dua sudut sebelah utara dibuatkan tangga untuk naik ke atas Ka'bah. Perbaikan Ka'bah selanjutnya dikerjakan sewaktu Abdullah Zubair menjadi Walikota Makkah. Karena Zubair tidak setuju Yazid Bin Muawiyah menjadi Khalifah maka Yazid mengirimkan tentara untuk menundukkannya. Dengan menggunakan senajata manjanik(Mortir sekarang) dia menggempur kota Makkah sehingga dinding Ka'bah terdapat kerusakan. Setelah tentara Yazid bin Mu'awiyah mundur mendengar bahwa Khalifah Yazid telah wafat maka Abdullah bin Zubair membangun Ka'bah kembali hingga selesai tanggal 17 Rajab 62 Ha. Tahun 75 H. Abdullah Zubair ditaklukkan oleh Hajjaj bin Yusuf,sehingga praktis Makkah dan Ka'bah dikuasai oleh Hajjaj. Waktu sedang berkuasa itulah Hajjaj merombak bangunan Ka'bah atas izin Khalifah Abdul Malik Bin Marwan,dengan pertimbangan bahwa Ka'bah yang dibangun sewaktu Abdullah Zubair melebihi dari bentuknya semula. Jadi pembangunan oleh Hajjaj ini sekedar mengembalikan Ka'bah ke asalnya. Sewaktu Syarif Mas'ud bin Idris menjadi Amir kota Makkah dan di bawah Kerajaan Sulthan Murad Khan di Turki,tahun 1038 H,tanggal 19 Sya'ban terjadilah banjir besar di kota Makkah sehingga Ka'bah separuhnya tergenang. Setelah surut tampak dinding Ka'bah retak-retak dan banyak batunya yang runtuh. Amir Syarid Mas'ud bin Idris berunding dengan para pembesar dan Alim Ulama untuk memperbaikinya. Nasihat para Ulama dan pembesar agar hal itu diberitahukan kepada Sulthan Murad Khan. Atas izin Sulthan Ka'bah diperbaiki dan penyelesaiannya diteruskan oleh Amir Syarief Abdullah bin Hassan bin Abu Namir pada tanggal 12 Zulhijjah 1040 H. Pemerintah Arab Saudi Memeperbaiki Ka'bah hingga selesai tanggal 11 Sya'ban 1377 H. Mengenai soal kelambu Ka'bah (Kiswah) ceritanya pada saat dua abad sebelumnya tahun Hiriyaha orang yang mula-mula memberi kelambu Ka'bah adalah AS'ad Ahimyari. Di zaman Islam Rasulullah pernah memasang kiswah dan diteruskan oleh Kalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar dengan biaya kas negara.Tahun 743 H sanpai tahun 1381 H kiswah dibuat dan ditanggung oleh Pemerintah Mesir tetapi tahun berikutnya dibuat sendiri oleh Pemerintah Arab Saudi.


MASJID NAMIRAH
Di tengah-tengah padang Arafah terdapat sebuah masjid bernama Namirah. Namirah adalah nama seorang wanita yang bersedia mengabdikan diri menjaga masjid tersebut sampai akhir hayatnya. Di tempat ini pula wanita tersebut dikuburkan. sewaktu Rasulullah melakukakan haji wada' beliau melakukan shalata zhuhur dan ashar dengan jama' takdim di masjid ini.

MASJID TAN'IM
Letaknya di luar kota Makkah tempat orang -orang mengganti pakaian dengan pakaian ihram,bagi orang yang tinggal di luar kota Makkah antara luar kota dan Miqat makam. Disini dibangun sebuah masjid yang besar. Masjid Tan'im ,tempat dimana Ausyah memulai umrah atas perintah Rasulullah SAW.


JABAL NUR DAN GUA HIRA
Disebelah utara masjidi Haram kurang lebih 6 km, terdapat sebuah gunung,tidak begitu tinggi (Jabal Nur). Untuk mendaki ke atas memerlukan waktu kurang lebih satu jamsedangkan dipuncaknya agak menurun sedikit terdapat sebuah gua yang cukup empat orang duduk,tinggi di dalamnya setinggi orang berdiri. Gua tersebut dikenal dengan nama gua Hira. Jabal Nur dan Gua Hira ini sangat penting dalam sejarah Islam karena di gua inilah Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama yaitu surat Al'alaq dari ayat 1 sampai 5.

JAMARAT
Kata Jamarat adalah bentuk jamak dari kata Jumrah yang berarti jumrah Aqabah. Jumrah Wusta dan jumrah Ula. Kata Jumrah berarti kumpulan batu-batu kecil namun kata ini akhirnya menjadi nama lokasi yang dilempari batu kerikil oleh para pelaku haji saat mereka berada di Mina. Jumrah Aqabah disebut juga jumrah Kubro yaitu Jumrah yang paling dekat dengan Makkah sekaligus sebagai batas antara Mina dan Makkah. Pada tanggal 10 Zulhijjah setiap jamaah haji harus melempari Jumrah ini tujuh kali lemparan yaitu setelah mereka melakukan wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah. Sedangkan pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah mereka melontar jumrah Ula dan Jumrah Wusta secara urut. Jadi pada tanggal 10 Dzulhijjah jemaah haji hanya melempar satu jumrah saja yaitu Jumrah Aqabah namun pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah jemaah melempar tiga jumrah yang dimulai dari Jumrah Ula dan diakhiri jumrah Aqabah. Adapun masa atau waktu melempar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah dimulai dari setelah tengah malam dan batas terakhirnya sampai matahari tenggelam tanggal 13 Dzuhijjah. Dan waktu yang dusunahkan adalah setelah matahari terbit samapi tergelincirnya matahari (tengah hari) tanggal 10 Dzulhijjah. Melontar jumrah mengingatkan jamaah haji bahwa Iblis senantiasa berusaha menghalang-halangi orang mukmin yang akan melakukan kebaikan. Oleh karenanya pertolongan Allah hendaklah senantiasa domohonkan agar termasuk yang disegani Iblis menjadi orang-orang yang dengan ikhlas menjalani hidup mentaati petunjuk-petunjuk Allah. Demikian penting peringatan demikian itu diberikan,sehingga untuk melontar jumrah tidak hanya satu kali tetapi berkali-kali,sekurang-kurangnya selama tiga hari dan sempurnanya empat hari,yang dimulai Hari Raya Qurban dilanjutkan dengan hari-hari Tasyriq sekurang-kurangnya dua hari dan sempurnanya adalah sampai tiga hari tasyriq. Tidak pernah berhenti menggoda dan tidak mudah dirasakan godaannya. Orang-orang yang hidup ikhlas sajalah yang akan mampu menanggulangi godaan setan itu. Keberhasilan Nabi Ibrahim As menangkis godaan iblis diikuti dengan segera melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya.

Suasana pelemparan jumrah di Mina,disini tempat pelemparan jumrah bertingkat dua

Jabal Rahmah (tugu putih) yang selalu dikunjungi jamaah haji sewaktu wukuf di Arafah


Di saat pisau Ibrahim As akan digoreskan pada batang leher Ismai'il terdengarlah seruan untuk menghentikan penyembelihan itu. Perintah menyembelih anak itu hanyalah ujian belaka. Maka digantilah Isma'il dengan binatang sembelihan yang besar. binatang itulah yang kemudian disembelih. Menyembelih kurban pada Hari Raya Qurban adalah mengikuti sunnah Nabi Ibrahim As dan dilestarikan dalam syari'at Nabi Muhammad SAW dan berlaku hingga hari Qiyamat kelak. Pada tahun 1975 M tempat melempar Jumrah ini dibangun semacam jembatan layang agar sebagian jemaah dapat melempar dari atas untuk mengurangi kepadatan dilokasi aslinya yang sudah terasa sempit. Mungkin suatu ketika diperlukan satu tingkat lagi setelah dua tingkat yang ada sekarang ini tidak memadai.




Read more ...

Keutamaan Sering Berwudhu



Berwudhu sebelum shalat adalah suatu keharusan. Namun dianjurkan kita berwudhu dalam setiap keadaan.

Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

“Sesungguhnya umatku akan dihadirkan di hari kiamat dengan wajah, tangan, dan kaki yang bercahaya sebab bekas wudhu mereka (selama di dunia).

Maka barangsiapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan...” (HR. al-Bukhari: 136, Muslim: 246)

Diantara makna memperpanjang cahaya adalah berusaha agar dirinya senantiasa dalam keadaan berwudhu.

Setiap kali wudhunya batal ia segera berwudhu kembali walau tidak hendak shalat.

Akan berangkat kerja, di sela-sela beraktivitas, selepas ke kamar mandi, bahkan menjelang tidur, mari membiasakan diri senantiasa dalam keadaan berwudhu...

Kebersihan badan akan membawa pengaruh pada ketenangan hati..




artikel muslimah.or.id
Read more ...

PENTING! Perhatikan Shaf Shalat Kita!

Wajibnya Meluruskan Shaf

Dari Jabir bin Samurah dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Maka kami berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan mereka rapat dalam shaf.” (HR. Muslim no. 430)

Dari Abu Mas’ud -radhiallahu Ta’ala anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak kami ketika akan shalat seraya bersabda, “Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku adalah orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka.” (HR. Muslim no. 432)

Dari Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala anhu- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ
“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (HR. Muslim no. 433)

Dari sahabat Nu’man bin Basyir -radhiallahu anhu- berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ. ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ ! لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
“Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.” (HR.Muslim no. 436)

Perpecahan dan perbedaan dalam hal yang lahir akan menyebabkan dan mengantarkan kepada perpecahan dan perbedaan secara batin. Sebagaimana penyerupaan secara lahir akan mengantarkan kepada penyerupaan secara batin. Hal ini ditunjukkan oleh nash dan panca indera.

Memang, Tidak lurus dan rapatnya shaf tidaklah mempengaruhi keabsahan shalat berjamaah tersebut, TAPI tentunya sangat mempengaruhi kesempurnaannya.

Hendaknya imam shalat punya perhatian yang besar dalam meluruskan shaf sebagaimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- melakukannya. Dimana beliau sampai-sampai meluruskan sendiri dengan kedua tangan beliau. Maka di sini nampak bergampangannya sebagian imam yang hanya memerintahkan makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf (itupun sambil menghadap kiblat) tanpa memperhatikan apakah mereka mengerjakannya atau tidak.
Read more ...

Solusi Bagi Wanita Haid Yang Tidak Pernah Mengqadha Puasanya

Solusi Bagi Wanita Haid Yang Tidak Pernah Mengqadha #Puasanya

Fatwa Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

Soal:

Saudara perempuan saya dalam kurun waktu bertahun-tahun tidak pernah meng-qadha puasa yang ditinggalkannya karena sebab tamu bulanan (haid). Hal itu dikarenakan ia jahil (tidak tahu) terhadap hukum meng-qadha puasa. Lebih lagi banyak wanita dari kalangan orang awam berkata kepadanya bahwa ia tidak perlu meng-qadha. Bagaimana solusinya?

Jawab:

Ia wajib istighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Dan ia wajib berpuasa sebanyak hari yang ia tinggalkan ditambah memberi makan satu orang miskin setiap harinya, sebagaimana difatwakan oleh oleh sebagaian sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Memberi makan sebanyak setengah sha, sekitar 1,5 kilogram. Kewajiban ini tidak gugur darinya hanya karena perkataan wanita-wanita awam terhadapnya bahwa tidak perlu meng-qadha. ’Aisyah radhiallahu’anha berkata:

كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika datang Ramadhan dan ia belum meng-qadha maka ia berdosa. Maka ia wajib untuk meng-qadha dan bertaubat serta memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan, jika ia mampu. Jika ia faqir tidak mampu memberi makan (fidyah), maka sudah cukup baginya meng-qadha puasa dan bertaubat. Gugur darinya kewajiban membayar fidyah. Jika ia tidak mengetahui hitungan hari yang ditinggalkannya, hendaknya ia memperkirakannya lalu berpuasa sebanyak hari yang menurut perkiraannya itu hari puasa yang ia tinggalkan, ini sudah mencukupi baginya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم

“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian” (QS. At Taghabun: 16)

Salah satu bentuk rahmah Allah adalah tidak diwajibkannya wanita haid untuk meng-qadha shalat, karena dengan meng-qadha nya akan menjadi masyaqqah (kesulitan). Dan kepada orang yang sakit hendaknya mereka bersemangat untuk menegakkan shalat sesuai kemampuannya walaupun ia harus shalat dengan pakaian yang terkena najis ketika tidak memiliki pakaian yang suci. Ia juga bisa shalat dengan ber-tayammum jika tidak mampu untuk wudhu dengan air, berdasarkan ayat yang barusan disebutkan, yaitu ayat (yang artinya) “bertaqwalah kepada Allah semampu kalian“. Orang sakit pun boleh shalat tidak menghadap kiblat jika memang tidak mampu menghadapkan diri ke kiblat, ia juga boleh shalat semampunya dengan berdiri atau duduk ataupun sambil berbaring ataupun telentang. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kepada Imran bin Hushain yang sedang sakit:

صل قائماً فإن لم تستطع فقاعداً، فإن لم تستطع فعلى جنب، فإن لم تستطع فمستلقياً

“Shalatlah sambil berdiri, jika tidak mampu maka sambil duduk, jika tidak mampu maka sambil berbaring, jika tidak mampu maka sambil telentang” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya, An Nasa-i dalam Sunan-nya. Ini lafadz An Nasa-i)

Kecuali jika orang yang sakit itu hilang akalnya, maka tidak ada kewajiban qadha baginya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

رُفع القلم عن ثلاثة: عن النائم حتى يستيقظ، وعن المجنون حتى يفيق، وعن الصغير حتى يبلغ

“Pena diangkat dari 3 jenis orang: orang yang tidur sampai ia bangun, orang yang gila sampai ia waras, anak kecil sampai ia baligh” (HR. Ahmad 896, Ibnu Majah 2031, Abu Daud 3825)

Namun jika hilang akalnya hanya 2-3 hari karena sakit lalu kemudian ia sadar maka ia tetap wajib qadha karena keadaannya tersebut semisal dengan orang tidur. Wallahu Waliyyut Taufiq.



Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/435
Read more ...

Perawakan Nabi Muhammad SAW



“Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun.

Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih.” (diriwayatkan oleh Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Rabi’ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)

• Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah sahabat yang paling akhir meninggal dunia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.

• Perawi menghilangkan bilangan satuannya dari puluhan (digenapkan) . Karena kebanyakan riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw tinggal di Mekkah sebagai Rasul 13 tahun, dan wafat pada usia 63 tahun.

“Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi.” (diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’,dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)

“Rasulullah saw tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek.Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerahmerahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan akan Beliau turun ke tempat yang rendah.

Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang.

Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan.Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw.” (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr dan Abu Ja’far bin Muhammad bin al Husein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin `Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)

“Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu’ah. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryan a.s.ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas’ud,Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’ad dari Laits bin Sa’id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.)

• Suku Syanu’ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.
• Urwah bin Mas’ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.
• Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai’atur Ridlwan yang bersejarah.

“Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu.” (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari `Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

BENTUK KHATAMUN NUBUWAH.

“Aku pernah melihat khatam (kenabian)…. Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.” (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Ya’qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)

“Apabila `Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah saw. maka ia akan bercerita panjang lebar. Dan ia akan berkata: `Diantara kedua bahunya terdapat Khatam kenabian, yaitu khatam para Nabi. (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi `Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari `Umar bin `Abdullah, dari `Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w.)

Dalam suatu riwayat, Alba’bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid `Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: “Abu Zaid berkata: `Rasulullah saw bersabda kepadaku : `Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku’. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba’ bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: `Apakah Khatam itu?’ Abu Zaid menjawab: `kumpulan bulu-bulu*’. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu `Ashim dari `Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’bin Ahmar al Yasykuri)



• Ia mengatakan kumpulan bulu-bulu dikarenakan ia hanya dapat merasakan dengan rabaan tangannya saja, tidak melihat dengan mata kepala. Jadi yang dikatakan itu hanya berdasar rabaan belaka, yang teraba olehnya adalah bulu yang tumbuh di sekitar Khatam.
Semoga bermanfaat.
Read more ...