Popular Posts

Sunday, 6 November 2016

WASIAT UNTUK WANITA YANG BARU MENIKAH

PSSI:
An-Nikaah:
Manhajul Anbiya:
💐🏵 WASIAT UNTUK WANITA YANG BARU MENIKAH

☄ al-'Allamah asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

📌🌷 "Kami wasiatkan kepada para wanita yang baru menikah : agar berakhlak yang baik, bergaul dengan baik terhadap suami, dan mentolerir kekurangan yang ada pada suami supaya suasana menjadi harmonis.
Hendaknya dia menjadi seorang yang baik akhlaknya, berbicara kepada suami dengan sopan, melaksanakan tugas-tugas rumah, memperhatikan kondisi dirinya sendiri dari sisi kebersihan dan wewangian. Bicara sopan kepada suami. Karena itu termasuk sebab-sebab langgengnya pernikahan.
🚨 Aku peringatkan dari sikap kasar dan keras, atau tidak mau melaksanakan perintah suami yang tidak ada pelanggaran padanya.
🛤 Yang disyari'atkan adalah : engkau perhatian terhadap perintah-perintah suami dan melaksanakannya apabila padanya tidak ada pelanggaran syar'i.
✅ Hendaknya engkau bertutur kata yang baik kepadanya, dengan senyum dan tawa yang sopan. Melaksanakan perintah-perintah suami,  pergaulan yang baik, bertingkah laku yang sopan, disertai wewangian dan kebersihan.
🔅 Juga memuliakan keluarga suami, seperti ibunya, saudari-saudarinya, ayahnya, dan yang semisalnya.

🏡 Kami wasiatkan dengan ini semua kepada para isteri yang baru dan juga kepada yang lainnya."

🔊 Fatawa Nuur 'ala ad-Darb, kaset 430

🌷 وصايا للمرأة حديثة العهد بالزواج تجاه زوجها 🌷

📝 قال العلامة ابن باز رحمه الله عز وجل :
نوصي الحديثات العهد بالزواج ، نوصيهن بحسن الخلق و طيب العشرة مع الزوج ، و التحمّل لما يقع من تقصير من الزوج حتى تستقيم الأحوال ، و أن تكون حسنة الأخلاق ، حديثها مع زوجها طيّب ، تقوم بواجبها في منزلها ، تعتني بنفسها من جهة النظافة و الطيب ، و الحديث الطيّب مع زوجها ، لأن هذا من أسباب ثبات الزواج و بقائه و استمراره .
👈 و نحذِّرها من العنف و الشدة ، أو عدم تنفيذ أوامره التي لا محذور فيها ، بل المشروع لها أن تعتني بأوامره و تنفّذها له إذا كان ليس فيها محذور شرعًا ، أن تكون طيّبة في الكلام معه و الحديث بالإبتسام و الضحك المناسب ، و تنفيذ الأوامر و طيب المعاشرة ، و طيب المخالقة ، مع التطيب  مع النظافة ، مع إكرامه أهله كأمه و أخواته و أبيه و نحو ذلك ، كل هذا نوصي به الزوجات الجديدات و غيرهنّ .

🔊 فتاوى نور على الدرب (430) للشيخ : ( عبد العزيز بن باز )

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Read more ...

JANGAN MENCELA PEMIMPIN MUSLIM KITA

Al-istiqomah:
💐BINGKISAN NASEHAT UNTUK SAUDARAKU: JANGAN MENCELA PEMIMPIN MUSLIM KITA

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya melarang kaum muslimin untuk merendahkan dan menjelek-jelekkan penguasanya. Suatu hari, ketika seorang penguasa (Ibnu Amir) sedang berkhutbah dengan menggunakan pakaian yang tipis, seseorang yang bernama Abu Bilal mengatakan: Lihatlah pemimpin kita menggunakan pakaiannya orang fasik. Abu Bilal tersebut kemudian ditegur oleh Sahabat Nabi Abu Bakrah sambil menyampaikan hadits yang didengarnya dari Nabi:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah di bumi, Allah akan hinakan dia (H.R atTirmidzi no 2150 dihasankan oleh atTirmidzi dan al-Albany)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ مَشَوْا إِلَى سُلْطَانِ اللهِ لِيَذِلُّوهُ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Tidaklah suatu kaum berjalan menuju pemimpin Allah dengan tujuan untuk menghinakannya, kecuali Allah akan hinakan ia sebelum hari kiamat (H.R alBazzar no 2848 dari Hudzaifah dan diisyaratkan keshahihannya oleh al-Haitsamy dalam Majmauz Zawaaid)

Dua hadits di atas yang shahih dan diriwayatkan dari dua Sahabat Nabi yang berbeda memberikan bimbingan kepada kita untuk menahan diri tidak menjelek-jelekkan dan menghinakan pemimpin muslim. Hadits-hadits tersebut juga merupakan dalil larangan demonstrasi dengan menjelek-jelekkan kebijakan penguasa. Perbuatan demonstrasi bukanlah dari Islam, namun ditiru dari negeri-negeri kafir.

Demikian juga menjelek-jelekkan dan meruntuhkan kewibawaan pemerintah melalui tulisan-tulisan di media massa, buletin, maupun blog, web, maupun social media di internet. Janganlah kita melakukannya, karena hal itu bisa berakibat tidak hanya ancaman di akhirat, tapi juga kehinaan bagi pelakunya di dunia.

Berikut ini adalah beberapa dalil lain yang menunjukkan larangan mencela dan menjelek-jelekkan penguasa muslim (diambil dari kitab Muamalatul Hukkam fi Dhau-i Kitaabi was Sunnah karya Dr. Abdussalam bin Barjis):

لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَلَا تَغِشُّوهُمْ، وَلَا تَبْغَضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا؛ فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

Janganlah kalian mencela para pemimpin kalian, jangan menipu mereka, jangan marah kepada mereka, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya sudah dekat (H.R Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dengan sanad yang baik (jayyid))

Sahabat Nabi Anas bin Malik radhiyallahu anhu menyatakan:

كَانَ اْلأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ اْلأُمَرَاءِ

Para pembesar dari Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang kami dari mencela para pemimpin (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid)

Sahabat Nabi Abud Darda’ radhiyallahu anhu menyatakan:

وإنَّ أوَّل نِفَاقِ الْمَرْءِ طَعْنُهُ عَلَى إِمَامِهِ

Sesungguhnya awal kemunafikan pada seseorang adalah celaannya kepada pemimpinnya (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid dan Ibnu Asakir)

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk bersabar menghadapi kedzhaliman penguasa:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang dibencinya ada pada penguasa, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang memisahkan diri sejengkal dari Jamaah (kaum muslimin di bawah pemerintahan yang sah), maka ia mati dalam keadaan mati Jahiliyyah (H.R al-Bukhari no 6531 dan Muslim no 3438)

Bahkan, kesabaran seseorang dalam menghadapi penguasa yang mementingkan diri sendiri bisa mengantarkan seseorang mendapat manfaat dari telaga.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pada hari kiamat:

سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

Kalian akan menjumpai sepeninggalku para pemimpin yang mementingkan diri/kelompoknya. Bersabarlah, hingga kalian menjumpai aku di telaga (H.R al-Bukhari no 3508 dan Muslim no 3432).

(dinukil dari Aqidah al-Muzani, Abu Utsman Kharisman, Penerbit Cahaya Sunnah Bandung)

Read more ...